Exile

27 Feb

Charla's lullaby

Disclaimer: I wanted to write a short narrative fiction but ended up writing this, whatever this is. Hahah. P.s.: purely fiction.

—–

I have a confession to make: I am running from you.

You started off as a little twinkling star in my universe. You were neither Saturn, nor Pluto; never in this eternity would I peg you as a destination. You were pale compared to the moon. Nothing on you could turn me from my track, as if you were translucent.

But the world then shifted and I was bound to your gravity. I breathe you. You are effortlessly, unknowingly powerful over my mind and it scares me, sending chills downright to my spine. Know that I’m helpless when it comes to you and your annoyingly beautiful smile. The way you look at me, nothing is ever the same again. I see red: the color of your lips. I am…

View original post 216 more words

The sun is set

15 Dec

Kita memang nggak bisa menolak jatuh cinta, tapi kita bisa menolak untuk nggak merusak apa yang sudah dibangun orang lain. Kita gak tau perjuangan mereka untuk bisa sampai di situ.

with logic, Maya

My another ego

2 Oct

I’m proudly to announce that … *drumroll*

I PUBLISH NEW BLOG IN HERE :

http://hotorwhat.wordpress.com/

it contains my travel diaries, destinations, how to get there, what to do, and my tips about that place.

I do really really hope you’ll enjoy as much as I do. 🙂

Lonely as a Sailor, ship wrecked in the sea

14 Aug

Lonely because all stupid things I did to you.

Knowing that sorry is never gonna be enough to apologize.

I wonder as I wandered
Do you wonder me?
I always sit, and think of you
And smile in memory
So if you raise a glass
To love you passed
Raise a glass to me
Cause I’m lonely as a sailor
Ship Wrecked on the sea

 

Menjadi manusia yang beriman, bukan yang beragama

8 Oct

It’s going to be short post, the highlight at the very end of this day.

Baru saja di minggu lalu, saya menyetujui khotbah pastor mengenai menjadi manusia yang beriman. Iman itu mengajarkan orang menuju tingkah laku yang sesuai moral, yang bersifat humanity, yang tidak lame, bisa cerdik seperti ular dan bersih seperti burung merpati pada saat yang bersamaan..

Jadi, melihat artikel tentang pendapat Paus Fransiskus, saya makin mengagumi sosok pemimpin ini. Bukan berarti saya die hard fans yang akan selalu loyal dengan pendapatnya, tapi truly that his thinking is somewhat universal just like what God expects. 

Berikut adalah artikelnya yang saya ambil dari kompas.com:

Paus Fransiskus: Saya Percaya Tuhan, Tapi Bukan Tuhan Katolik

VATICAN CITY, KOMPAS.com – Paus Fransiskus kembali membuat pernyataan yang mencengangkan. Dalam wawancara dengan harian terbitan Italia, La Repubblica, Paus asal Argentina itu menjelaskan keyakinannya akan Tuhan.
“Saya percaya akan Tuhan, namun bukan (kepada) Tuhan Katolik,” kata Paus kepada pendiri dan mantan editor harian La Repubblica, Eugenio Scalfari.
Scalfari yang sudah cukup terkejut mendapatkan kesempatan wawancara pribadi dengan Paus, semakin terkejut dengan pernyataan itu. Maka, Scalfari meminta Paus untuk mengelaborasi pernyataannya itu.
“Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal, dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia,” ujar Paus.
Lebih jauh Paus Fransiskus menjelaskan bahwa sebagai pemimpin umat Katolik, dia mempercayai Tuhan dan Yesus Kristus sebagai inkarnasi Tuhan.
“Yesus adalah guru dan pemimpin saya. Tapi Tuhan, Bapa, adalah cahaya dan sang Pencipta. Itulah yang saya yakini. Apakah menurut Anda keyakinan kita jauh berbeda?” tanya Paus kepada Scalfari.
Paus berusia 76 tahun ini menambahkan dia tak selalu sepakat dengan apa yang selama ini menjadi standar Gereja Katolik.
“Pandangan Vatikan sentris telah mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tak sepakat dengan cara ini, dan saya akan lakukan apapun untuk mengubahnya,” Paus menegaskan.
Sejak terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus terbukti menjadi seorang Paus beraliran liberal. Dia bahkan bersikap lebih lunak terhadap hal-hal yang selama ini ditentang keras Vatikan seperti homoseksualitas dan ateisme. 

“Tell me, what is it you plan to do with your one wild and precious life?”

29 Jul

coming soon in August

Kesempatan kedua

28 Jul

Everyone is deserved second chance

Ketika kita gagal, seringkali orang baik di sekeliling kita membangkitkan semangat dengan berkata, “gak papa, kok. Masih ada kesempatan lainnya, kan?”

It just doesn’t work for procastinater like me. 

Sudah bukan saatnya lagi menggaungkan bahwa waktu masih panjang. Clock is ticking, run fast. Kita tidak akan sadar waktu itu sangat berharga sampai hal yang berharga itu terenggut. Setelahnya, penyesalan is for crying baby.

Di beberapa kejadian, saya merasakan kesempatan kedua ini tidak memperbaiki keadaan, malah sebaliknya. Ada sepatu dari merek kesukaan saya. Tidak heran meskipun harganya kurang terjangkau pada masa itu, saya tetap memberanikan diri untuk membeli. Saking sayangnya dengan sepatu itu, saya suka eman-eman untuk kerap menggunakannya, seperti berjanji untuk memperlakukan dia lebih spesial?

Berlebihan? Hm, tidak juga karena sepatu itu memang spesial. Sepatu datar warna putih tulang dilengkapi pita hitam di ujung atasnya, manis sekali. Dan sepatu itu juga sangat nyaman untuk digunakan jalan. Tapi, ya balik lagi, sayang kalau sepatunya cepat rusak.

Tidak lama kemudian, saya lupa dengan janji saya. Janji untuk menjaga sepatu itu lebih spesia. Nyatanya, saya sering menggunakan sepatu itu. Awalnya memang digunakan untuk special occasion, lama-lama kalau jalan jauh juga pakai sepatu putih itu.

Akhirnya, sepatu itu rusak. Menganga di pasang kanan, bagian jari manis dan kelingking kaki kanan saya. Sedih, saya kehilangan sepatu spesial. Ya sudah, waktunya beli sepatu baru, saya pikir. Sembari menunggu waktu beli sepatu baru, saya memperbaiki sepatu putih tanpa harapan dia akan seperti semula.

Ternyata, setelah dari reparasi, sepatu itu kelihatan lebih awet dari biasa. Sepatu baru? Nanti dulu, lebih baik uangnya buat hal impulsif lainyang lebih menarik 🙂

Dan sepatu itu sekarang saya pakai, tidak ada lagi janji perawatan spesial. Malah lebih tepat jika dikatakan saya meng-abuse sepatu putih itu.

Jika saya jadi sepatu putih saya, mungkin saya lebih tidak memilih untuk mempunyai kesempatan kedua.